google.com, pub-5013500952012613, DIRECT, f08c47fec0942fa0
☆BreakingNews >

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rakyat tidak pernah mengerti mengapa kita impor BBM mentah

| Diposting : Kamis, 13 Juni 2013 | Pukul : 22.44.00 |

Oleh: Fransisca Setyawati
Rakyat tidak pernah mengerti mengapa kita impor BBM mentah, padahal kita adalah negara penghasil minyak mentah dunia. 
Coba produksi minyak mentah kita diolah sendiri, Kalau pemerintah saat ini ribut dan sibuk dengan masalah subsidi BBM, perlu kita pelajari dengan kritis, benarkah kita perlu subsidi BBM? Misalkan kita bikin hitung-hitungan orang tidak sekolah. Anggap 1 US$ = Rp. 10.000. 
Harga minyak mentah US$ 80 per barrel. Biaya untuk mengangkat BBM mentah dari perut bumi (lifting) + biaya pengilangan (refining) + biaya distribusi ke semua pompa bensin = US$ 10 per barrel. Volume 1 barrel = 159 liter.

Biaya produksi BBM premium Rp 100.000 : 159 = Rp. 628,93, kita bulatkan menjadi Rp. 630,- per liter. Harga minyak mentah dunia US$ 80 per barrel. 
Kalau dalam rupiah, hitungannya adalah Rp 800.000 : 159 = Rp. 5.031,45. Kita bulatkan menjadi Rp. 5.000,- Keuntungan pemerintah Rp 5.000 – Rp 630 = Rp 4.370/liter. 
Kalau produksi BBM kita 159.000.000 liter (1 juta barrel)/hari, maka keuntungan pemerintah Rp 694.830.000.000,-per hari. Setahun setara dengan Rp 250mas Trilyun lebih. 
Dimana ruginya ya...? Lalu apa yang di subsidi...! Perhitungan ini menunjukkan bahwa bukan hal yang mustahil bila harga BBM premium kita Rp 1.500/liter." 
Ini hasil diskusi penulis (Fransisca Setyawati) dengan mas Agus Setiawan (Research Associate GFi dan Pegiat Sosial Politik dari Unas) dan mas Hendrajit - (pengamat internasional, wartawan senior & penggiat theglobal review).
Di copas disini atas ide Itho Aristo Ch Amir.... silahkan didiskusikan ! semoga pasangan Bupati terpilih bisa memberikan pencerahan sesuai kondisi Batara....!
Penulis adalah warga Muara Teweh perantauan sekarang tinggal di Jakarta......

Kenaikan Harga BBM akal Bulus Pemerintah dan Politisi Senayan

Kebijakan kenaikan harga BBM yang akan dilakukan pemerintahan SBY  merupakan kebijakan politik untuk kepentingan politik pribadi SBY yaitu poltik praktis ataupun kepentingan menjelang pemilu 2014 bagi SBY dan partainya .  ,bukan kebijakan untuk memperbaiki perekonomian nasional seperti yang dikatakan SBY dalam menggelar keterangan pers mendadak di Kantor Presiden mengenai rencana kenaikan harga BBM dalam waktu dekat ini .

Apalagi pernyataan SBY yang mengatakan bahwa kebijakan kenaikan harga BBM sebagai bentuk kecintaan pada rakyat itu semua adalah kebohongan besar SBY dan rayuan bulus seorang SBY .

Justru dengan kebijakan kenaikan harga BBM yang akan dilakukan oleh SBY lebih kental untuk mendapatkan suara pada pemilu 2014 dengan mengunakan dana kompensasi kenaikan harga BBM kepada 15 juta rakyat miskin serta rakyat yang terkena dampak kenaikan harga BBM

Sudah ada fakta yang jelas kalau SBY melakukan strategi yang sama seperti tahun 2008 menjelang pemilu 2009 dengan menaikan harga BBM dan memberikan bantuan lunak tunai setelah menjelang pemilu 2009 SBY menurunkan harga BBM ,jadi jelas bahwa SBY akan melakukan tipu daya kepada lawan lawan partai politiknya

Oleh karena itu Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu  menghimbau semua kalangan mahasiswa ,buruh, tani nelayan untuk melakukan penolakan secara besar besaran atas kenaikan harga BBM  yang berkedokan bantuan langsung sementara atau BLSM  untuk rakyat miskin dan rakyat yang terkena dampak kenaikan harga BBM

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk tidak melakukan kenaikan harga BBM atau pemberian BLSM pada rakyat kalau mau berbicara keadilan bagi rakyat terkait politik harga BBM misalnya dengan memberlakukan petrol tax yang dibebankan pada kendaraan bermotor pribadi dengan beban pajak atau tax yang tinggi setiap tahunnya
Contoh : setiap  Mobil Pribadi di asumsikan dalam 1 hari mengunakan 10 liter BBM  dan dibebankan petrol tax dengan selisih split harga antara harga BBM internasional dengan harga BBM subsidi  .dimana didapatkan split harga Rp 4500 dan dikalikan 10 liter didapatkan Rp 45000/perhari yang dibebankan sebagai petrol tax bagi kendaraan pribadi.

Dalam satu tahun berarti petrol tax yang harus dibayarkan oleh mobil pribadi yaitu Rp 45.000 dikalikan 365 hari sebesar  Rp 16.425.000 .Dan jika dikalikan dengan jumlah mobil Pribadi yang berjumlah 20 juta unit maka diadapat pemasukan petrol tax dari mobil pribadi sebesar 328,5 Trilyun rupiah ,ini baru dari kendaran pribadi belum lagi jika dengan kebijakan untuk menaikan royalty bagi pemerintah terhadap sector pertambangan dan migas

Sedangkan untuk kendaraan yang digunakan untuk public transport dan yang digunakan untuk berproduksi tidak dikenakan petrol tax sehingga produk yang dihasilkan dari sector industry jasa dan barang akan tetap murah dan cenderung dapat bersaing .

Hitungan mengenai Petrol Tax merupakan suatu contoh untuk membuktikan bahwa SBY melakukan kebijakan kenaikan BBM bukan untuk menyelamatkan perekonomian nasional tapi untuk kepentingan politik praktis SBY dan keluarganya serta partainya untuk melindungi dari pengadilan rakyat terhadap SBY setelah tidak berkuasa lagi atas dosa dosa yang dilakukan selama SBY memerintah seperti akan diungkapnya kasus kasus mega korupsi yang terjadi diera SBY yang memungkin keterlibatan keluarga SBY.

Alasan penolakan ini sangat berdasar karena dengan naiknya harga BBM maka perekonomian nasional akan semakin hancur dengan tingginya inflasi dan menurunnya daya beli masyarakat dan makin banyak buruh yang akan di PHK akibat dampak kenaikan BBM  akibat melonjaknya biaya operasional dan tuntutan kenaikan upah oleh buruh terhadap perusahaan perusahaan

Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu juga menduga tidak ada yang gratis bagi parpol dan politisi yang akan mendukung kenaikan harga BBM dan pura pura menolak  kenaikan harga BBM , kami mendapat informasi bahwa ada dana disiapkan sejumlah dana besar  untuk mengamankan kebijakan kenaikan harga BBM dan pengelontoran dana kompensasi kenaikan harga BBM  yang akan diguyur ke politisi senayan dan partai politik

Oleh karena itu FSP BUMN Bersatu mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi untuk secara ketat dan intens mengawasi dan melakukan penyadapan nomor nomor handphone politisi senayan,petinggi petinggi istana  dan petinggi parpol jelang kenaikan harga BBM yang akan digelontorkan oleh SBY .
Oleh karena itu Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu  menghimbau semua kalangan mahasiswa ,buruh, tani nelayan untuk melakukan penolakan secara besar besaran atas kenaikan harga BBM  yang berkedokan bantuan langsung sementara atau BLSM  untuk rakyat miskin dan rakyat yang terkena dampak kenaikan harga BBM

Jakarta 13 Juni 2013

Komite Pimpinan Pusat


Arief Poyuono,S.E                                          Ainur Rofiq

Ketua Umum                                         Sekretaris Jendral 
HP: 0811996229

Membaca Angka Laju Pembangunan Barito Utara (Bagian Tiga)

| Diposting : Kamis, 23 Mei 2013 | Pukul : 22.11.00 |

Sedimentasi Kehidupan Masyarakat Barut 
Oleh: Basyori Saini 

Pulang ke Muara Teweh adalah kerinduanku yang tak pernah berakhir, 416 km jarak tempuh dan 10 jam terpaku di belakang setir tidak terasa lama dan menjemukan. Melintasi kota dan desa di sepanjang jalan antara Banjarmasin dan Muara Teweh seperti menuntunku melintasi kenangan indah yang berakhir manis. 

Muara Teweh sungguh sebuah prasasti yang terukir di sanubariku……selamanya. Hampir Sembilan jam perjalanan ku tempuh, tak terasa Jembatan Hasan Basri yang gagah perkasa sudah berada di hadapan mata, tulang-tulang besi jembatan seolah gapura selamat datang, menyambutku dengan gayanya yang khas. Tenang, diam, dingin, tanpa ekspresi namun menyiratkan kekuatan. 

Sungai Barito di bawahnya mengalirkan air keruh, agak tersendat aliranya di atas bebatuan dan lumpur serta sampah kayu yang hanyut dari hulu. Beban itu belum selesai, deretan lanting di sepanjang sungai turut menambah beban sungai yang sudah tampak sangat tua. Lebih tua dari umurku sekarang, bahkan nenek moyang ku sendiri. Keletihan sungai menopang kehidupan warganya semakin jelas di bagian hilir, alirannya semakin lambat dan semakin mengecil. 

Deburan ombak yang dulu selalu terdengar, kini sunyi, seolah mengisyaratkan keletihan yang luar biasa. Kenangan masa kecil menyelinap satu demi satu dalam lamunan, dulu semasa SD aku selalu berenang di Sungai Barito bersama teman-temanku. Meskipun agak jauh dari rumah, aku selalu mencuri kesempatan untuk berenang di sungai Barito. 

Melompat dari atas jembatan Butong dengan gaya bebas seolah menjadi stempel atau pengukuhan bahwa aku sudah syah dan boleh bergabung dengan teman-teman lain. Meskipun ada juga yang takut untuk melakukannya dan memilih termenung menyaksikan teman-teman terbang di ketinggian 5 meter dan jatuh di atas air sungai Barito. 

Tepukan riuh selalu mengiringi apabila ada teman yang berhasil terjun dengan gaya yang elok, sebaliknya cibiran melanda ketika ada teman yang terjun tanpa menunjukkan gaya atau atraksi yang memukau. Sejujurnya terjun dari ketinggian 5 meteran dari Jembatan Butong memang bukan urusan yang sepele. Seorang teman bahkan telah menjadi korban, meninggal di sungai karena jatuh dengan posisi yang salah. Dadanya membentur tepi sungai yang penuh dengan bebatuan, akhirnya sang teman tersebut merenggang nyawa. 

Namun sorak sorai dan pujian telah menyempitkan nalar dan terjun bebas dari jembatan seolah menjadi menu wajib bagi ku dan teman-teman setiap sore. Terjun bebas adalah kelas nol kecil bagi pergaulan petualangan kami, kelas nol besarnya adalah berenang menyeberangi sungai Barito. Sementara anak bawang bermain lungsuran lumpur di pinggir sungai. 

Berbugil ria bergumul lumpur dan menceburkan diri ke air yang tidak kalah kotornya. Resiko terparah dari lungsuran lumpur ini adalah luka sayatan dari benda-benda keras yang tertanam di tanah. Bisa beling, paku, serpihan kayu ulin dan sebagainya. Pantat robek, kaki luka adalah hasil sampingan dari kegiatan ini. Hasil yang lebih mengerikan adalah digigit buntal, yang selalu mengintai di dalam air. 

Air yang awalnya keruh tiba-tiba berwarna merah darah, rasa perih pun segera mendera, dan tak lama teriakan kesakitan segera terdengar dengan kerasnya. Jari kaki atau telapak kaki biasanya yang diserang, namun salah satu teman malah kehilangan burung pipit kebanggaanya. Desa Jingah atau Kampung Jambu adalah tujuan kami, berenang secara berkelompok dengan gaya masing-masing. Ada yang gaya dada, gaya kupu-kupu, kombinasi sambil menyelam dan atau gaya bebas. 

Ada satu batu yang menjadi tempat kami istirahat apabila terasa letih, batu di tengah Sungai Barito yang seukuran pos kamling itu seolah gagah perkasa, tidak bergeser barang sesenti pun di tengah arus Sungai Barito yang terkenal galak. Kami selalu duduk di batu tersebut dengan badan menggigil kedinginan, mata merah dan bibir kelu. Sekali kali sambil menyeka air di wajah dan setelah semua terkumpul perjalanan pun dilanjutkan. 

Berenang menyeberang sungai Barito pun tidak kalah ngerinya, bahkan satu teman kami hilang setelah dua kali berenang pulang pergi. Sungai Barito yang terkenal dengan arus bawahnya itu membawa teman kami selama berhari-hari dan mengembalikannya setelah tak bernyawa lagi. Tragis memang, tapi hal itu tidak menyurutkan niat kami untuk terus mengarungi Sungai Barito, menguji nyali untuk mendapatkan pengakuan kelompok. 

Petualangan lain yang sering kami lakukan bersama teman-teman adalah bermain bola ke desa lain di sepanjang Sungai Barito. Dengan menggunakan jukung aku dan teman-teman menyerang desa lain dalam permainan bola. Kegiatan seperti ini rutin kami lakukan jika libur sekolah tiba, tak peduli teriakan orang tua di rumah yang selalu kuwatir atas apa yang kami lakukan. 

Bermain bola dan mencari buah di hutan adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Tidak heran kalau badan kami hitam legam terpanggang matahari, badan kerempeng karena tidak jelas apa yang dimakan. Namun paling tidak, apa yang kami lakukan adalah panduan alamiah tubuh dan kehidupan serta lingkungan, bahwa inilah cara kami bertahan, mengisi hidup dan menempa diri agar lolos dari seleksi alam yang kadang tidak ramah. 

Tidak berdaya adalah bahasa tubuh yang menyiratkan orang lain untuk mendahului langkah kita, menggilas kita, mengucapkan selamat tinggal pada kesempatan yang telah hilang diambil orang. Begitulah kehidupan, kadangkala mirip seperti sungai. Kalau sungai membawa beban sampah, lumpur, batu, pasir dan sampah lain. 

Demikian halnya dengan kehidupan kami di Muara Teweh, sedimen kehidupan itu memang bukan berupa sampah mati yang terongok di pinggir-pinggir sungai, bukan pula pasir dan batu yang bisa dipindah buang semau orang. Sedimentasi kehidupan itu berupa kumpulan orang-orang yang secara sistematis menjadi tidak berdaya, apatis dan terjebak pada rutinitas stagnan yang berlangsung secara terus menerus. 

Sedimentasi itu juga bisa berupa kumpulan orang yang tidak terjamah baiknya kebijakan pemerintah yang berkuasa. Bahkan sedimentasi kehidupan itu bisa berupa kumpulan orang-orang yang akhirnya memilih menjadi maling ayam, jemuran, makanan, dan hal-hal lain yang seharusnya tidak dia ambil. Kasat mata dan bisa kita temukan disekitar Muara Teweh, bahkan mungkin tidak jauh dari pusat pemerintahan kita. 

Sementara itu, sekolompok lain dengan senangnya menari-nari menikmati kekuasaan dan materi di atas penderitaan kelompok yang lain. Sedimentasi kehidupan itu dalam bentuk sederhana dan jamak kita sebut dengan kemiskinan. Mereka seolah-olah sedang berada di atas kapal mewah yang penuh dengan fasilitas yang memanjakan, melaju di atas air dan menimbulkan riak gelombang yang bisa menghempaskan yang lain. 

Beberapa waktu yang lalu saya membuktikannya sendiri, Ates, teman saya waktu SD tanpa sengaja saya jumpai di pinggir jalan arah ke Sungai Rapen. Penasaran karena lama tidak berjumpa, saya memaksanya untuk membiarkan saya mengantarkan dia pulang ke rumahnya di dalam Sungai Rapen. Sungguh miris dan menitikan air mata menyaksikan apa yang saya temui. 

Rumah gubuk beratap kajang, bersekat satu dengan kamar, dihuni oleh 6 orang beserta anak-anaknya yang empat orang. Tidak ada perabot mahal di rumah itu, piring plastic, gelas plastic, dapuran dari tanah, kelambu lusuh dan tilam kumal tergulung dipojok kamar. Anak-anaknya terlihat menikmati makan siang, nasi dan kuah mie instan tanpa lauk. 

Kulit buah binturung, tarap, ciwadak banyu dan beberapa buah lokal berserakan di lantai rumah yang merangkap dapur. Anjing dan babi bermain-main di bawah kolong rumah, mengais apapun yang masih bisa dimakan. Sementara istri Ates mengemasi daun singkong yang akan dijual besok harinya. Mata kami bertatapan, sedih dan saya tak sanggup berlama-lama dirumah teman saya ini. 

Bukan risih atau alasan lain, tapi hanya rasa gundah yang tak terperi menyaksikan teman sepermainan masih harus hidup dalam kondisi seperti ini. Senyum getir terukir diwajah Ates, segetir nasibnya yang harus menghidupi empat anaknya tanpa ada jaminan, dengan apa hal itu akan ditunaikan. Ates termenung, sulit mengatakan apa yang ada dalam hatinya. 

Saya tau, dia minder bertemu saya karena perbedaan yang sangat mencolok. Saya tidak habis pikir akan kondisi ini, 67 tahun merdeka dari penjajahan Belanda ternyata tidak menjamin semua masyarakat kita merdeka dari ketertindasan secara ekonomi dan sosial. Ates adalah salah satu contohnya. 

Ates adalah salah satu produk sedimentasi kehidupan, ketidakmampuannya bertahan di tengah arus kehidupan yang demikian keras, memaksanya menepi, berpegang pada ranting pohon kecil sekedar untuk bertahan. Tidak ada harapan ada kapal atau perahu yang akan datang untuk menolongnya sekedar menghela nafas atau memberinya makanan. Semua harus dicarinya sendiri, dengan kaki tangannya, dengan semangatnya yang hampir padam. Tapi dia tetap bertahan, mencoba mengumpulan tenaga untuk dapat berenang menepi, mencari pijakan yang dapat menopang beban hidupnya yang semakin berat. 

Aku seolah-olah duduk di kapal mewah, sementara teman sepermainanku hampir tenggelam karena diterpa ombak dari kapal yang kutumpangi. Aku hanya bisa melambaikan tangan, seraya terus bergerak cepat meningglkannya yang hampir putus napas karena ombak yang demikian besar. Aku hanya termenung, menganalisa keadaan dan bingung harus memutuskan apa. 

Aku harus melompat dari kapal ini, mengulurkan tangan untuk meraih sahabat yang hampir tenggelam, memberikanya semangat bahwa dia tidak sendiri. Masih banyak pilihan untuk bertahan, mungkin tidak harus naik kapal mewah, jukung atau sebatang kayu besar pun kadang kala sudah cukup untuk bertahan. Karena kehidupan ini memang kita yang menjalani, kita yang harus tentukan mau jadi apa kita. 

Tapi sedimentasi kehidupan juga memberikan pelajaran yang sangat berharga, bahwa sungai memiliki arus adalah kenyataan, bahwa arus sungai mampu membawa sampah dan ikan mati ke tempat-tempat yang tidak seharusnya pun satu kenyataan. 

Namun prinsip yang harus dipegang adalah HANYA SAMPAH DAN IKAN MATI YANG IKUT ARUS, sementara ikan yang hidup di sungai akan menentukan jalan dan arah hidupnya, walaupun hanya dengan dua sirip dan ekor. Ates mungkin berbahagia karena dia bukan Sampah dan ikan mati, yang ikut saja kemana arus membawa. Sementara para penumpang yang duduk di atas kapal mewah penuh dengan kenikmatan, bisa jadi merupakan sampah yang sesungguhnya.(habis)     

Penulis adalah Community Development Specialist, 
bekerja di PT.Cokal Indonesia.


Terkait:
  1. Membaca Angka Laju Pembangunan Barito Utara (Bagian Kedua)
  2. Membaca Angka Laju Pembangunan Barito Utara (Bagian Pertama)

Membaca Angka Laju Pembangunan Barito Utara (Bagian Kedua)

Membuka Lahan, Merintis Hidup
 Oleh: Basyori Saini

Saya masing ingat waktu sekolah di SD Inpres Mankusari di Muara Teweh, dalam setahun pelajaran kami punya 4 kali libur besar. Dua kali adalah libur resmi, yakni bagi raport kenaikan kelas dan libur bulan puasa. Dua bulan penuh kami merdeka dari segala aktivitas yang berbau sekolah. Selama itu juga buku kami tinggalkan, kapur tulis, upacara bendera, penghapus yang membuat kami sesak nafas, kerlingan mata ibu guru yang kadang terlihat halak, teriakan bapak guru yang kehabisan akal karena kenakalan kami. 

Bermacam pelajaran berganti denan rutinitas bermain, layangan, perang-perangan dengan senapan bambu kecil berpeluru kertas koran basah, congkaleng, balogo, mandi di sungai Barito, menggalas benang layang layang, mencari buah di hutan, berburu burung dengan ketapel, main ambungan, kelereng, babatisan dan kadang kala mencari tambahan uang jajan sebagai buruh lepas mengupas rotan. Yang terakhir ini bukanlah bentuk rekreasi, karena sejatinya ini adalah pekerjaan maha berat buat anak-anak seumur saya waktu itu. Bayangkan saja untuk mengupas rotan seukuran jempol orang dewasa dengan panjang hanpir 10 meter, upahnya hanya 50 rupiah. Sedangkan rotan yang lebih kecil yang disebut rotan irit, upahnya hanya 25 rupiah. 

Mau pilih yang mana? Pilihan yang pelik, karena resikonya adalah luka-luka di tangan dan telapak tangan. Namun demikian, kadang kala pekerjaan ini harus dijalani, demi mendapatkan uang untuk membeli sepatu baru saat masuk sekolah nanti. Kebanggaan memiliki sepatu batu telah mengecilkan rasa sakit akibat duri rotan yang tertancap di tangan, telapak tangan dan kadang kaki. Besok pagi hari setelah bangun pagi, baru terasa sekujur tangan bengkak meradang, sakit untuk beraktivitas. Namun alam selalu menyediakan obat-obatan secara gratis. Obat bius saja yang tidak tersedia. Dengan diolesi getah dari beberapa pohon tertentu, lunaslah rasa sakit dan bengkak yang ada.

Bagi anak-anak orang kaya mereka pergi liburan ke Banjarmasin atau ke tempat lain. Saya sebagai anak pendatang yang hidup dibawah garis pas-pasan (beda tipis dengan miskin) harus puas mengisi liburan dengan piknik di hutan atau bermain dengan teman-teman lain yang senasib. Saya pernah membayangkan liburan ke Banjarmasin dengan naik kapal kayu besar yang ada TV di dalamnya, makan dan minum di buritan kapal sambil melihat kampung-kampung lanting yang berjajar di sepanjang sungai Barito. Dibuai angin sungai yang menebarkan wangi segar air pegunungan, wangi bunga-bungaan di hutan, semerbak buah binturung, kueni, tarap, asam putar dan durian yang pada saat musimnya datang, bergelantungan di pohon-pohon sepanjang sungai barito. Sebuah mimpi besar yang nggak tau kapan akan terwujud.

Jenis libur yang berikutnya adalah libur tidak resmi. Tiba-tiba saja kelas menjadi kosong, murid yang jumlah aslinya mencapai 30 – 40 orang, tiba-tiba tinggal 10 atau 15 orang. Guru-guru kaget, melempar pandangan dengan curiga dan bertanya, kemana teman-teman pergi? Kami langsung menjawab dengan kompak: Menugal paaaaaakkkkkkkkkk!! Demikian jawaban teman-teman. Atau jawaban yang satu lagi adalah : Mengatam paaaaaakkkkkk!!. Bapak dan Ibu Guru biasanya langsung paham, duduk di kursi dan dengan sedikit malas membuka buku pelajaran yang penuh dengan debu kapur warna putih. Memandang kelas yang seperti ular tangga, murid duduk menyebar secara tidak merata.

Ada juga guru yang menyikapi jawaban kami dengan sedikit emosi, mengutuk murid yang memilih menugal daripada sekolah, lebih memilih mengatam daripada sekolah. Padahal menugal dan mengatam adalah pekerjaan orang dewasa. Kalau pun anak-anak ikut paling kerjanya cuma bermain-main, berburu binatang kecil-kecil di hutan yang baru dibuka untuk berladang atau memancing ikan di sungai yang jernih bak kaca. Tapi itulah kenyataan, menebang pohon, membuka lahan, membakar ladang, menugal dan mengatam adalah rutinitas yang tidak bisa dihilangkan.

Anak mana yang sanggup mengayunkan tugal yang terbuat dari kayu bulat sebesar betis orang dewasa dengan panjang sekitar dua meter? Mana tahan? Atau mengatam, memotong untaian padi yang tingginya hampir sedada orang dewasa sambil membawa lanjung untuk tempat padi yang telah dikatam? Mana tahan.

Tapi itulah realta social yang sudah turun temurun dilaksanakan, sehingga menjadi sebuah nilai baku ditingkat komunitas. Seolah ada yang kurang kalau tidak membuka ladang, seolah tidak syah hidup kalau tidak membakar ladang, seolah tercerabut dari alam kalau tugal tidak tidak terpakai, seolah ada yang hilang kalau tidak ngumpul di gunung dengan kerabat dan handai taulan “mendirik, meneweng, mamanduk, mauri petak”. Ritual menugal adalah merupakan kewajiban budaya, yang rutin dilakukan dari tahun ke tahun. Dengan menugal, warga menunaikan kewajibannya menjaga petak lebu, memastikan bahwa keamanan kampung tetap terjaga, dengen memberi tanda pada tanah dan kebun berupa pondok dan tanaman.

Seorang teman bernama Turiseli yang ayah seorang demang di Desa Jingah, menceritakan awal mula kegiatan menugal pada jaman dahulu. Menurut beliau, menugal adalah gabungan kegiatan budaya dan pertanian yang dibungkus dalam satu kegiatan bersama. Pada jaman dahulu kegiatan menugal identik dengan upacara keagamaan bagi warga Kaharingan. Ada ritual tertentu yang harus dilaksanakan sebagai bentuk permohonan dan ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas panen yang melimpah seraya berharap agar tahun ini diberikan hasil panen yang yang lebih baik serta kedamaian bagi seluruh masyarakat. Menugal juga merupakan bentuk tanggung jawab warga terhadap keamanan kampung, sehingga tidak jarang masyarakat harus berjalan berhari-hari untuk mencapai batas kampung dan berjumpa dengan warga lain dari desa yang lain. 


Tidak ada ukuran dan batas yang jelas, namun kearifan local telah memandu mereka untuk saling menghormati dan menghargai batas masing-masing desa. Sungai, pohon besar, tempat keramat, riam di sungai, dan pertanda fisik lain sering dijadikan acuan untuk menentukan tapal batas suatu desa. Kegiatan ini terus berlangsung, secara turun temurun. Ayah mengajak anaknya berladang untuk memberi tahu bahwa disinilah tempat kita, tapal batas desa kita, tanah leluhur kita, karena hakikatnya tanah yang ada adalah warisan dari nenak moyang yang telah bertani sejak jaman dahulu kala.

Itu sebabnya menurut Pak Martinus Satu, Demang Siang Timur di Puruk Cahu, secara personal orang dayak tidak memiliki tanah yang dapat dimiliki secara pribadi. Namun tanah yang ada adalah tanah ulayat yang dikelola oleh satu rumpun keluarga secara turun temurun. Inilah bentuk kearifan lokal yang kini semakin terkoyak.

Negara dengan kekuasaan yang dimilikinya kadang kala membuat masyarakat menjadi asing di kampungnya sendiri. Model penguasaan hutan yang sentralistik menyebabkan masyarakat kadang kala diposisikan sebagai perusak hutan, dicurigai, bahkan kadang kala ditangkap dan dibawa ke pengadilan karena melakukan rutinitas mereka. Ayah seorang teman tidak habis pikir ketika kebun karet yang telah diusakan selama berpuluh-puluh tahun tiba-tiba masuk dalam kawasan hutan lindung. Polisi hutan mendatangi rumahnya dan menyampaikan perihal status kebun karetnya yang masuk dalam kawasan hutan, terpaku, bingung dan tak berdaya. Itulah yang dirasakannya.

Peraturan pemerintah kadangkala seperti pagar tembok tinggi, meskipun tidak kasat mata, sangsi dan tuahnya terasa menyita harapan hidup. Ditambah lagi oleh adanya birokrasi korup yang menghadirkan HPH, perusahaan tambang, perkebunan dan sebagainya sebagai bemper perampasan hak-hak masyarakat. Alat berat dan doktrin yang ditebarkan aparat pemerintah kepada masyarakat semakin mendorong masyarakat menjauh dari lingkar kehidupan yang dulu mereka rintis, terpojok di hutan-hutan yang kini telah tandus. 


Seribu kepala keluarga membuka ladang, menugal dan bertani, mungkin tidak seberapa luas ketimbang kaplingan HPH yang bergerak sedemikian massif. Berapa sih kemampuan parang, belayung, kapak dan Mandau?. Jika dibandingkan alat berat yang bagai raksasa melindas kampung dan hutan. Dengan dalih pembangunan, kadang kala pemerintah bertindak nyata memiskinkan masyarakatnya sendiri. Dengan dalih pembangunan, masyarakat dininabobokan dengan impian yang menghanyutkan, sementara ketika bangun perut terasa lapar dan tidak ada makan yang bisa dimakan. Sementara penguasa kebingungan menyediakan kantong-kantong baru, karena kantong yang ada sudah tidak muat menampung setoran dari segala penjuru…..

Pak Martinus, satu surat untuk cucunya 
Cucuku, dulu kampung kita ini kaya raya, apa yang kita mau ada di sekitar rumah kita. Babi tinggal berburu sebentar, buah tinggal tunggu jatuh, ikan tinggal tanggung ke sungai, obat tinggal cari di hutan. Tuhan sangat sayang kepada kita, apa yang kita mau disediakan oleh Nya. 

Kini cucuku, jangankan ikan di sungai, tempuyak saja kita harus beli, karena pohon durian telah habis ditebang oleh orang yang datang dengan truk panjang, gergaji mesin yang nyaring bunyinya. Tanaman obat sudah susah di dapat, tabat barito, pasak bumi, akar kuning, penawar sampai, seluang belum entah kemana. Bahkan daun sawang pun semakin langka

Sekarang kalau sakit kita harus ke puskemas, ada tabib berbaju putih yang memeriksa kita sakit apa. Kemudian di beri obat berwarna warni, sakit perut atau sakit kepala kadang obatnya sama. Mantir semakin tersisih, demang semakin tersisih. Upacara adat sudah jarang dilaksanakan, Totoh Numbeng, Balian, Badewa sudah semakin jarang terdengar. Gong dan babun hanya jadi hiasan di rumah-rumah.

Bersiapkan cucuku, hari semakin gelap, masukan ayam, babi dan binatang ternak kita ke dalam kandang. Masukan banih dan pupuan yang masih ada ke dalam lanjung. Besok akan semakin jauh kita berladang, bukan semakin luas kampug kita, tapi karena tidak ada hutan lagi yang menjadi pelindung hidup kita.(Bersambung ke Sedimentasi Kehidupan Masyarakat Barut........)

Sumber Pustaka:
  1. AJ. Nihin. 1990, Membangun Berlandaskan Pada Akar Adat dan Budaya. 
  2. Dames and Moore, Voice of Murung Raya, Environmental and Social Impact Study , 1995. 
  3. Yohansen Borneo, 2012. Mengenal dan Memahami Sejarah asal usul suku Dayak Siang di Kabupaten Murung Raya Kalimantan Tengah. 
  4. DAD Kalteng, 2010. Susunan Dewan Adat Dayak Kalimantan Tengah, 2010. 
  5. Yun Hariadi, 2004. FE Institute. SDA, Masyarakat,dan Perusahaan dalam Lotka-Volterra, Teori Pemanfaatan Sumber Daya Alam Berkesinambungan. 
Penulis adalah Community Development Specialist

Membaca Angka Laju Pembangunan Barito Utara (Bagian Pertama)

| Diposting : Selasa, 21 Mei 2013 | Pukul : 20.05.00 |

Dari Cerita Perjalanan Pulang Kampung 
Oleh: Basyori Saini 

TANPA ada janjian, saya dan teman saya yang sama-sama sudah lama tidak pulang kampung ke Muara Teweh, tiba-tiba berjumpa dalam satu bus yang sama. Kaget, kangen dan bahagia bercampur jadi satu. Lupa bahwa kami tengah berada di dalam bus yang juga ada penumpang yang lain, pelukan dan jabat hangat langsung membuka pertemuan kami. Percakapan langsung menjurus pada kondisi masing-masing, kerja dimana, tinggal dimana, berapa anak, kabar keluarga dan banyak hal. Satu hal yang menjadi halangan adalah teman saya ini sudah mulai hilang bahasa Ibu kami, yakni bahasa Bakumpai. Waktu saya mencoba untuk menggunakan bahasa Bakumpai, teman saya agak cengar cengir mencoba menerjemahkan apa yang saya maksud. Maklum tinggal di Jakarta selama lebih dari 15 tahun, sempat kuliah di luar negeri selama 4 tahun menyebabkan rekan saya ini agak kaku lidahnya untuk menggunakan bahasa Bakumpai.

Bus meninggalkan terminal KM 6 tepat jam 8 malam, kami nego dengan penumpang lain agar mau bertukar tempat dengan teman saya. Sehingga kami dapat leluasa melanjutkan cerita remaja kami yang telah lama kami tinggalkan. Saya menceritakan bahwa Muara Teweh sekarang sudah berkembang pesat, pembagunan, perluasan kota, lembaga pendidikan dan infrastruktur sudah sangat jauh berkembang sejak 10 tahun terakhir. Meskipun begitu saya juga menyampaikan bahwa masih ada sisi-sisi kehidupan lain yang masih perlu sentuhan, misalnya kemiskinan yang kasat mata di daerah pedesaan, infrastruktur yang belum berpihak pada pengembangan ekonomi kecil, misalnya pembukaan jalan baru yang menghubungkan desa-desa di pedalaman, jembatan penghubung dan fasilitas pendidikan serta kesehatan di daerah pedalaman.

Sambil memejamkan mata sebentar, teman saya langsung menyambung. Enggak gitu mas Bas, coba sampean baca di web nya BPS Kalteng, Barito Utara itu IPM nya terbaik ke dua lho se Kalimantan Tengah. Jadi kalau masih banyak kemiskinan di Muara Teweh saya nggak percaya. Karena IPM itu sendiri yang dijadikan tolok ukur adalah pendapatan masyarakat, mutu pendidikan, angka harapan hidup dan melek hurup. Begitu teman saya menjelaskan sambil menyodorkan tablet miliknya dengan Web site BPS Kalteng yang masih running on. Coba nih sampean lihat, tahun 2010 yang lalu IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Barito Utara itu angkanya adalah 75.15 setelah Palangkaraya yang menduduki peringkat pertama dengan angka 78.30. Angka harapan hidup warga Muara Teweh pun meningkat menjadi 72.04, hebat kan? Lihat lagi, angka melek hurup atau pendidikan hampir sempurna 98.20, yang artinya hampir tidak ada warga kita yang masih buta huruf. Luar biasa….lanjut teman saya.

Benar Om, IPM Barito Utara itu tinggi, tapi nanti kalau kita masuk ke daerah Barito Utara sampean akan temukan masih banyak penduduk kita yang miskin dan belum tersentuh fasilitas umum. Jawab saya agak ketar ketir, karena teman saya ini adalah lulusan magister ekonomi. Jadi saya paham betul bagaimana keilmuanya dan ketajaman analisanya. Bahkan ketika singgah di Ampah untuk istirahat malam, kami masih terhanyut dengan diskusi mengenai Barito Utara, tentu saja campur debat kusir antara kami berdua. Saya tetap kukuh dengan pendapat saya bahwa angka IPM yang ada tidak mencerminkan kenyataan sebenarnya. Saya tidak curiga dengan siapapun, namun saya hanya mencoba memahami apa yang tampak dan terlihat oleh mata saya, tanpa saya koneksikan dengan segala keruwetan ilmu pengetahuan. Apalah saya, bisa bekerja dan membantu orang banyak saja sudah bukan main bangganya. Mau bicara iptek, sarjana saja harus saya tempuh selama delapan tahun, setelah surat peringatan Drop Out (DO) mampir ke tangan saya. Jadi saya harus menahan diri dan lebih banyak berguru kepada teman saya ini.

Bus pun melanjutkan perjalanan, sampai di daerah Kandui Kecamatan Gunung Timang hari sudah pagi, matahari pelan-pelan memancarkan sinarnya menerangi alam raya. Sebagian penumpang masih tertidur di kursi-kursi bus, sebagian lagi ada yang terbangun karena suara hiruk pikuk kendaraan yang lalu lalang di jalan poros tersebut. Teman saya juga tertidur sebentar sampai kami masuk ke daerah Trahean dekat KM 27. Saya mencoba membangunkan dan menjelaskan kepadanya daerah yang kami lewati, agak kaget dia bertanya, mas Bas, ini HPH Austral Byna ya? Masih ada? Kayu di daerah mana yang ditebangi? Berondongan pertanyaan bertubi-tubi diarahkan kepada saya. Saya menjawab semampu saya karena sayapun tidak begitu tahu secara detil tetang HPH yang ditanyakan. Pertanyaan nya belum selesai, ketika tidak lama kemudian kami menjumpai satu keluarga yang berangkat menuju kebun dengan membawa semua keluarganya, anak-anak dan istrinya serta beberapa ekor hewan peliharaan.

Teman saya sampai harus melongok keluar jendela untuk terus melihat, sampai akhirnya dia duduk kembali sambil menghela nafas. Masih ada ya mas warga kita yang bekerja seperti ini? Kalau jam segini anaknya ikut bapaknya ke kebun, berarti nggak sekolah dong dia? Kalau istrinya ikut juga ke kebun berarti rumah mereka siapa yang urus? Kalau satu keluarga seperti itu berapa kemampuan mereka membuka ladang? Berapa pendapatan mereka satu bulan, sementara padi baru bisa dipanen sepuluh bulan lagi? Apa usaha mereka untuk mencukupi kebutuhan dasar mereka sehari-hari? Kalau mereka berladang jauh dari rumah, kalau sakit kemana mereka berobat? Pasti tidak ada bidan desa yang mau tinggal di hutan belantara seperti ini?

Sayup-sayup saya tertidur dan baru bangun ketika teman saya sedikit merajuk karena saya tidak mendengarkan pertanyaannya. Wah sampean gimana, saya bertanya kok malah ditinggal tidur? Selorohhnya. Jam menunjukkan angka delapan pagi, bus sudah parkir terminal bus Pasar bebas Banjir di Dermaga Muara Teweh. Saya berpisah untuk sementara waktu dan berjanji akan bertemu lagi dengan sahabat saya ini, menyelesaikan perbedaan pendapat kami. Siapa tau ada solusi atau titik temu untuk menyamakan persepsi kami tentang membaca angka dan menerjemahkannya.   Dada saya sudah membucah kangen dengan keluarga yang lama saya tinggalkan, dengan bumi ini, dimana saya menghabiskan masa kecil dengan teman-teman saya. Bumi Iya Mulik Bengkang Turan(bersambung ke 
Membuka Lahan, Merintis Hidup).... 

Sumber Pustaka:
1.BPS Kalimantan Tengah, Kalimantan Tengah Dalam Angka 2010
2.Caruniya Mulya Firdausy, Angka Penduduk Miskin cederung Turun, LIPI 2011
3.BPS Barito Utara, Kabupaten Barito Utara Dalam Angka 2010.
4.Basyori Saini, Alumni :
  a.SDN Inpres Mankusari
  b.SMP Negeri 1 Muara Teweh
  c.SMA Nengeri 1 Muara Teweh
  d.Universitas Palangkaraya, Fakultas Pertanian
  e.Guelph University, Ontario Canada. Short course on Regional
    Development Study, Sustainable Development Program, 1997.
  f.Bekerja di PT Cokal sebagai CSR Manager


(Penulis Adalah Community Development Specialist)

Pemilu Kada Hanya Melahirkan Koruptor Baru

| Diposting : Jumat, 03 Mei 2013 | Pukul : 21.09.00 |


OLEH: VOA ISLAM

PEMILU KADA, hanya melahirkan koruptor baru di Indonesia. Tidak ada yang lain. Wajah-wajah korup lahir  dari kawah candradimuka yang bernama pilkada. Begitu mereka terpilih menjadi gubernur, bupati, dan walikota, yang terpikir hanya, bagaimana bisa mengembalikan modal yang sudah mereka keluarkan.

Modal kampanye bagi seorang calon gubernur, paling sedikit menghabiskan uang antara Rp 50 - Rp 100 miliar. Karena memang pilkada di Indonesia tidak ada yang murah. Tidak ada sistem yang membat  pilkada murah. Semuanya harus mengeluarkan dana  dan modal yang sangat besar. Semua biaya itu yang harus ditanggung oleh seorang calon gubernur. Para calon gubernur itu, kemudian mencari dana dari para "Cukong" atau pemilik modal yang akan menjadi pendukungnya.

Berapa miliar uang yang harus dikeluarkan bagi seorang calon gubernur kepada para pemimpin partai pendukung? Berapa uang yang harus dikeluarkan bagi para penggerak dan penggalang di lapangan? Berapa uang yang harus dikeluarkan bagi para pengumpul suara di lapangan? Berapa uang yang dikeluarkan untuk membuat panflet, spanduk, baliho, poster, dan iklan di berbagai media? Berapa uang yang dikeluarkan bagi "EO" (Event Organizer), yang akan membuat berbagai kegiatan dan acara?

Bandingkan dengan berapa gaji setiap bulan seorang gubernur, bupati, walikota setiap bulan? Berapa "tak home pay"  (gaji yang dibawa pulang) seorang gubernur, bupati, dan walikota? Kalau seorang gubernur gaji setiap bulan rata-rata dengan tunjangan Rp 200 juta, atau mungkin sampai Rp 300 juta, maka selama menjabat menjadi gubernur, uang yang dapat dikumpulkan dari gajinya, paling tinggi hanya Rp 15 miliar.

Katakanlah gubernur DKI Jakarta, yang memiliki PAD (Pendapatan Asli Daerah), mencapai Rp 40-50 triliun, setahun, dan berapa gaji gubernur DKI? Katakanlah gaji seorang gubernur DKI, seluruh ditambah dengan tunjangan dan pembagian dari PAD, pasti tidak akan lebih dari Rp 500 juta. Kalau biaya modal kampanye menghabiskan Rp 100 miliar, dapatkah kiranya seorang gubernur terpilih akan dapat mengembalikan uang kampanye yang sudah dikeluarkan itu?

Inilah yang akan menjadi dilema bagi gubernur yang terpilih. Mereka tidak banyak punya pilihan. Mereka tidak banyak dapat melakukan langkah menutupi biaya kampanye. Pilihan yang mereka lakukan, hanya dengan cara korupsi APBD, menjual asset Pemprov kepada "Cukong", memberikan  proyek-proyek Pemprov kepada para penyandang dana, atau pemilik kapital yang sudah mendanai kampanye. Melakukan kerjasama dengan para "Cukong" melalui BUMD, yang tentu semuanya itu, pasti akan merugikan kepentingan Pemprov.

Mereka yang sudah memenangkan Pilkada itu, tak lama menjabat, kemudian mereka menjadi tersangka berbagai kasus korupsi. Menurut laporan dari Departemen Dalam Negeri, selama periode tahun 2004-2012, sebanyak 173 kepala daerah diperiksa KPK dengan status sebagai saksi, tersangka, dan terdakwa.

Sebanyak 70 persen dari jumlah itu sudah mendapat vonis berkekuatan hukum  tetapdan menjadi terpidana. Jumlah 173 kepala daerah itu setara dengan sepertiga jumlah kabupaten dan kota. Selebihnya, dari 33 gubernur, sudah  lebih 17 gubernur alias 60 persen yang menjadi tersangka, dan sebagian sudah masuk bui.

Bayangkan, seorang kepala daerah, seperti Bupati Banyuwangi, Ani Lestari, yang menjadi Bupati periode 2005-21010, yang sudah ditahan KPK, melakukan korupsi pengadaan tanah, dan merugikan negara Rp 19 miliar! Lalu, kalau 173 kepala daerah, gubernur, bupati, dan walikota, berapa uang negara yang dikorup?

Dibagian lain, Kementerian Dalam Negeri, mencatat sepanjang tahun 2004-2012, sudah 431 anggota DPRD, provinsi yang tersangkut masalah hukum, sebagian besar mereka (83,7 %), diperikasa dalam kasus dugaan korupsi. Jumlah itu setara dengan 21,5 persen dari anggota DPRD seluruh Indonesia. Sungguh luar biasa. Tidak ada dapat memberikan harapan bagi masa depan Indonesia.

Tingkat partipasi pemilih dari tahun terhadap pemilu dan pilkada terus melorot. Banyak rakyat yang sudah sadar, dan mereka memilih golput. Tidak ikut pemilihan atau pilkada. Seperti Pilkada di DKI tahun 2007, partisipasi rakyat mencapai 63,7 persen. Artinya, ada 36,3 persen rakyat yang tidak memilih alias golput.

Rakyat sudah tidak peduli dengan pemilu dan pilkada. Dibandingkan dengan tahun 2009, tingkat partisipasi  rakyat, terutama di DKI, masih sangat tinggi, mencapai 70 persen. Tetapi, kondisi terus melorot, karena rakyat kehilangan harapan.

Tak ada yang dapat diharapkan dari pilkada ke pilkada, dan hanya melahirkan koruptor-koruptor baru, yang sangat tamak dan merugikan rakyat. Tak ada janji-janji yang akan mereka penuhi. Semua hanya tinggal janji alias janji-janji palsu (jjp). Hidup rakyat tetap sangat sengsara.

Inilah prudok dari pilkada yang sangat merugikan rakyat. Rakyat hanya menjadi mainan para pemain politik yang haus kekuasaan. Sesudah  mereka  berkuasa mereka akan mengeruk uang rakyat. Dengan korupsi. Wallahu'alam.

Perahu Kertas Kabupaten Barito Utara


Oleh: Munawar Khalil

SANI, 45 tahun menyeka peluh yang semenjak tadi terus mengucur deras di tubuhnya. Perlahan- lahan mangkok dari batok kelapa tempat penampungan tetesan getah karet di pohon terakhir dipungutnya. Sudah semenjak satu bulan ini karet yang disadapnya tidak lagi mengeluarkan getah seperti sebelumnya. Musim kemarau yang kini tengah melanda membuat pohon karet mengering, mulai dari batang, daun sampai getahnya pun ikut kering. Pohon karet tidak lagi menghasilkan getah secara maksimal.

Berkurangnya produksi getah karet membuat Sani patah semangat, keadaan ini lebih diperparah lagi dengan ikut turunnya harga per kilogram getah karet di pasaran. Kini harga karet para pengumpul di Muara Teweh anjlok sampai di level Rp. 6.500.-/kg. Padahal sebelumnya harga masih bertengger di kisaran Rp. 8.000,-/kg. dan Rp. 12.000,-/kg, tergantung jenis getahnya.

Penurunan produksi dan harga jual yang tergolong drastis ini berimbas pada semakin kecilnya pendapatan ekonomi para petani karet lokal yang menggantungkan hidupnya dari usaha penyadapan. Sani adalah salah seorang penyadap karet di Barito Utara yang menjerit, merasakan dampak dari kondisi tersebut. Penderitaan Sani tidak berhenti di situ saja, karena ternyata ia bukanlah seorang petani karet murni, melainkan hanya petani upahan dengan sistem Handian (bagi hasil), dimana hasil penjualan dari produksi karet yang sudah minim itu, masih harus dibagi lagi sebesar 30% untuk pemilik kebun. Alhasil, semakin sulit lah ia mengatur minimnya penghasilan tersebut guna menutupi sedemikian beragamnya kebutuhan se hari- hari keluarganya.

Dampak dari turunnya harga jual karet ini tidak hanya berpengaruh terhadap penghasilan riil orang per orang petani karet, melainkan lebih jauh dari itu, penurunan harga tersebut juga mempengaruhi sendi- sendi perekonomian di Barito Utara secara luas. Sebagaimana kita ketahui, petani yang membuka lahan perkebunan di kabupaten Barito Utara ini mencapai 34.000 jiwa. Adapun luas perkebunan karet rakyat mencapai 53.258 hektare dengan produksi rata-rata 800 kilogram per hektare. Hampir 70% petani lokal, terutama yg bermukim di daerah pedesaan Barito Utara menggantungkan hidupnya dari usaha penyadapan karet. Ketika harga karet turun, maka menurun pula lah jumlah dana bergulir di masyarakat sehingga secara tidak langsung berpengaruh pula terhadap lesunya sektor usaha ekonomi lainnya.

Sebenarnya penurunan harga karet ini juga terjadi di daerah penghasil karet lain. Hanya saja yang membedakannya ialah kesiapan masing-masing daerah dalam mengantisipasinya. Untuk daerah yang memiliki pabrik karet, fluktuasi harga karet tidak terlampau berpengaruh terhadap kondisi ekonomi daerah dan masyarakatnya. Daerah yang mempunyai pabrik masih bisa menentukan kontrol harga dengan baik dibanding dengan daerah yang tidak mempunyai pabrik dan hanya menjual mentah. Barito Utara sejak puluhan tahun yang lalu sudah mempunyai cetak biru dan site plan mengenai rencana pembangunan pabrik dan penyiapan lahan perkebunan, sayangnya 2 (dua) kali masa jabatan Kepala Daerah yang sekarang, rencana itu belum dapat terwujudkan secara nyata.

Kebun- kebun karet yang ada sekarang adalah tanaman lokal masyarakat yang menjadi peninggalan program pokok ketika masa jabatan Bupati Drs. A.J. Nihin. Adapun keberlanjutan program sebagai bentuk perhatian dari pemerintah daerah hingga saat ini, di antaranya masih sebatas pemenuhan terhadap permintaan bibit karet oleh kelompok tani. Informasi terakhir menyebutkan bahwa masyarakat yang minta bantuan bibit karet sebanyak 3.267 jiwa terdiri atas 123 kelompok tani pada 43 desa tersebar di enam kecamatan, dan.dikabarkan pula bahwa rencananya pertengahan Oktober hingga akhir November 2012 akan ada bantuan bibit karet secara cuma-Cuma. Semoga informasi ini benar dan kita tunggu realisasinya.

Bagaimanapun secara finansial, program pengembangan perkebunan karet, sepertinya memang tidak terlalu menarik perhatian kepala daerah, karena dari proyek ini tidak menghasilkan dana secara instan, namun memerlukan waktu yang lumayan panjang. Ini sangat berbanding terbalik dengan proyek batubara yang dananya bisa langsung didapat ketika Ijin Usaha Pertambangan ditandatangani. Perkebunan karet sebenarnya adalah salah satu mata pencaharian masyarakat Barito Utara yang sesuai karakteristik wilayah dan merupakan tradisi turun-temurun penduduknya. Beberapa kali investor berusaha menawarkan kerjasama, namun selalu gagal mewujudkan proyek ini.

Pada dasarnya tugas pemerintah sangat sederhana, menyediakan lahan dan ijin, seterusnya investor lah yang melaksanakan proses dari penanaman sampai membangun pabrik karet dengan standart luas yang dipersyaratkan untuk mencukupi kebutuhan bekerjanya pabrik mereka. Harapan adanya suatu terobosan dalam membangun kehidupan ekonomi masyarakat berbasis perkebunan karet, tampaknya sudah menemui jalan buntu, kemiskinan mulai merambah naik, berbagai jenis usaha mengalami kelesuan seiring dengan melemahnya daya dukung perkebunan karet sebagai penopang utama perekonomian sebagian masyarakat di Barito Utara.

Dalam satu tahun menuju pilkada Juni 2013, rasanya kemungkinan untuk melihat perubahan itu masih sebatas mimpi, betapa tidak para elit daerah justru lebih fokus berloma-lomba kepada penciptaan strategi pemenangan dalam rangka berebut kursi kekuasaan nomor satu daerah, akan tetapi tanpa terlihat sedikitpun usaha diantara mereka untuk membarengi keinginan berkuasa (will to power) itu dengan suatu visi-misi dan rencana program yang jelas keberpihakannya pada bagaimana upaya mengatasi problem perekonomian masyarakat seputar masalah disektor perkebunan karet lokal. Gaduh persiapan pilkada nampaknya juga turut menyita perhatian sebagian anggota legislatif daerah yang juga bernafsu untuk ikut berperanserta menakhodai perahu kertas Barito Utara ini.

Perahu ini telah berlayar sedemikian jauh, tanpa arah dan tujuan yang jelas. Nakhoda yang membawanya pun telah lupa bahwa ia telah dipercaya dan diberikan amanah untuk mengarahkan perahu agar selamat sampai tujuan. Perjalanan masih panjang, gelombang dan badai telah menampakkan amarahnya. Perahu kertas ini sudah mulai terombang ambing dan akan karam ditengah lautan jika tidak segera dinakhodai secara baik dan benar. Sudah saatnya kita membutuhkan nakhoda yang mempunyai kapasitas, kapabilitas, skill, dan integritas untuk menyelamatkan perahu Batara.

Siapapun pemimpin yang menakhodai perahu kertas Barito Utara ini kedepan, akan menghadapi tugas yang maha berat dalam menjalankan roda pemerintahan. Diperlukan pemimpin super yang bekerja benar- benar murni untuk kepentingan dan kemaslahatan masyarakat Barito Utara, bukan dia yang hanya mengincar kursi kekuasaan semata-mata untuk diri, keluarga, dan kelompoknya. Ingat nasib perjalanan perahu kertas juga ada di tangan kita selaku penumpang yang memiliki hak dalam menentukan siapa nakhoda perahu yg dapat kita percayai. Mari kita saling bergandengan tangan dan saling mengingatkan. Semua akan indah pada waktunya. ELA SALA PILIH HAMPAHARI.

(Penulis adalah Sekretaris PC Muhammadiyah Barito Utara)

Piala Dunia dan Identitas Kebangsaan

| Diposting : Jumat, 17 September 2010 | Pukul : 17.45.00 |

Oleh. Mohammad Takdir Ilahi

Perhelatan akbar Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan sudah tampak dihadapan pecinta bola di seluruh dunia guna menyaksikan aksi-aksi memikat para bintang sepak bola dari berbagai negara yang berkesempatan tampil untuk menyuguhkan gaya permainan indah nan memukau. Selama satu bulan penuh, pecinta bola di seluruh dunia akan kembali dihibur oleh perhelatan bergengsi ini yang menampilan pemain-pemain bintang dengan bakat-bakat brilian dalam mengolah si kulit bundar.

Pesta akbar yang ditunggu-tunggu pemirsa di seluruh dunia memang mengundang daya tarik dan hasrat untuk mengikuti perjalanan tim peserta Piala Dunia yang diikuti pemain-pemain bintang papan atas yang telah mendapatkan pengakuan seiring dengan prestasi yang ditorehkan oleh pemain bintang bersangkutan. Sebut saja, pemain penuh talenta Messi, Ronaldo, Rooney, Kaka, Robben, Sneijder, Ribery, Villa, Xavi, Robinho, dan pemain bintang lainnya yang bakal menampilkan aksi-aksi memikat sehingga membuat detak kagum pemirsa di seluruh dunia.

Dalam perhelatan itu, kita akan disuguhkan permainan dengan penuh keindahan dari insan sepak bola dunia. Itulah sebabnya, permainan sepak bola adalah ramuan dari berbagai talenta dan improvisasi yang penuh keindahan. Lebih tepatnya lagi, sepak bola adalah layaknya sebuah orkestra, perpaduan antara harmonisasi dan keindahan. Harmonisasi atau keindahan mungkin bisa di miliki oleh semua tim di manapun, karena itu hanya masalah waktu. Untuk menyatukan kedua faktor tersebut, itu suatu hal yang sangat sulit. (A. Muhaimin Iskandar, 2006).
Perbedaan Gaya Permainan

Pertanyaanya, manakah yang lebih mengesankan, menonton sepak bola gaya latin atau permainan ala Eropa? Kalau saya boleh memilih, maka gaya permainan latin akan lebih indah daripada ala Eropa. Menyaksikan seniman-seniman sepak bola dari Amerika Latin yang memainkan si kulit bundar rasanya lebih memesona ketimbang permainan bertenaga kesebelasan dari benua hitam Afrika atau permainan kolektif dan disiplin kesebelasan-kesebelasan Eropa.

Perbedaan gaya permainan antara tim-tim sepak bola tidak saja dipengaruhi oleh letak geografis dan lain sebagainya. Latar belakang budaya tampaknya mungkin mempengaruhi secara signifikan pola permainan sepak bola. Eropa yang monarkis memberi sentuhan pada gaya permainan tim-tim dari daratan ini. Seperti musik klasik yang mengedepankan harmonisasi bunyi instrumen-instrumennya.

Bagaimana dengan gaya permainan Italia? Sistem grendel “catenaccio” ala Italia telah melahirkan Giani Rivera, Dino Zoff, Paolo Rossi, Franco Baresi serta Roberto Baggio. Permainan penuh disiplin Tim Panzer Jerman yang pernah melahirkan Franz Beckenbauer, Lothar Mattheus dan juga Juergen Klinsmann. Atau tim oranje Belanda dengan total footballyang mengesankan dengan pemain sekaliber Johan Cryuff, Ruud Gullit dan Van Basten.

Banyak sekali faktor yang menjadi latar belakang perbedaan gaya permainan. Semisal, bangsa-bangsa yang terjajah, maka gaya permainannya akan lebih menarik untuk disaksikan. Amerika Latin dengan latar belakang budaya kaum jajahan menampilkan gaya permainan sepak bola yang lebih mengedepankan keterampilan individu-individunya. Kawasan Amerika Selatan seperti halnya ”negara-negara selatan” lainnya pernah berada pada hegemoni imperialisme barat.

Itulah sebabnya, kalau kita mengacu pada gaya latin, tentu itu dilakukan dengan teknik dan keterampilan yang luar biasa. Gaya Permainan sepak bola latin pun lebih berpijak pada irama keterampilan individu-individunya. Layaknya tarian tango yang mengandalkan kecepatan langkah-langkah kaki. Gaya permainan Argentina dengan umpan-umpan pendek merapat melahirkan Maradona, Mario Kempes, Osvaldo Ardilles, Batistuta, Pablo Aimar dan juga bintang muda macam Lionel Messi.

Demi menyesuaikan diri dengan gaya permainan sepak bola modern, Brazil merupakan salah satu contoh tim peserta Piala Dunia yang tetap menampilkan permainan dengan gaya jogo bonito yang menjadi jati diri tim Selecao. Bahkan, kehebatan individu pemain-pemain Brazil merupakan berkah tersendiri bagi tim nasional mereka. Tidak heran bila permainan jogo bonito Brasil memunculkan maestro-maestro sepak bola seperti Pele, Zico, Socrates, Romario, Ronaldo, Ronaldinho, dan juga Kaka yang menjadi simbol-simbol keindahan sepak bola latin. Keindahan sepak bola Brazil telah mengantarkannya menjadi lima kali juara Piala Dunia.

Pun demikian halnya, pada dekade 90-an kesebelasan dari Benua Afrika mulai mencuri perhatian publik sepak bola. Kondisi geografis dan sosiologis Benua Afrika yang relatif keras melahirkan tim sepak bola dengan permainan penuh tenaga dengan individu-individu seperti Roger Milla, Abedi Pele, George Weah, Didier Drogba dan juga Samuel Eto'o. Bagaimana dengan perhelatan Piala Dunia yang berlangsung di benua Afrika? Apakah tim-tim dari Afrika mampu tampil cemerlang atau malah akan menjadi bulan-bulanan tim dari Amerika Latin?
Identitas Kebangsaan

Seringkali sepak bola melahirkan identitas-identitas baru. Kita ingat bagaimana seorang Diego Maradona dipuja oleh warga Napoli yang secara geografis berada di bagian Italia Selatan yang secara ekonomi di bawah kawasan Italia Utara. Maradona dianggap pahlawan perjuangan kelas karena membawa Napoli memotong hegemoni klub-klub kaya asal Italia Utara, bahkan ketika berlangsung Semifinal Piala Dunia 90 di Napoli antara Italia vs Argentina, Kesebelasan Italia seakan-akan bertanding di kandang lawan.

Pada perkembangannya bahkan identitas sepak bola tidak lagi diwujudkan melalu etnis pemainnya, seperti Perancis yang memenangi Piala Dunia 1998 dengan sebagian besar pemainnya merupakan keturunan imigran dari Afrika. Bahkan naturalisasi melalui pindah kewarganegaraan menjadi suatu keniscayaan dalam dunia sepak bola dewasa ini.

Pada era sepak bola industri ini, keindahan kadang tidak lagi menjadi inspirasi bagi permainan sepak bola, sementara kepentingan kapitalisme telah mengintervensi permainan sepak bola. Perkembangan mutakhir mengharuskan sepak bola berkolabarasi dengan industri. Dari sini muncul style baru dalam sepak bola, gaya permainan tidak lagi menjadi identitas khas suatu kesebelasan dari kawasan tertentu, pemain-pemain dari Amerika latin yang merumput di daratan Eropa telah memberi warna dan menginspirasi permainan tim-tim sepak bola di kawasan tersebut.

Bagaimanapun sepak bola telah memperlihatkan bagaimana sebuah multikulturalisme berlangsung. Ada saat dimana identitas dikibarkan dengan bendera besar, ada saat dimana identitas-identitas dihilangkan, ditinggalkan ataupun dileburkan untuk sebuah identitas baru.


Mohammad Takdir Ilahi,

Pecinta Bola dan Peneliti Utama The Annuqayah Institute Jogjakarta.
Emael. tkdr_ilahi@yahoo.co.id.
No.Hp 08179445575. No.Rek 0130558568
BNI Cabang UGM a/n Mohammad Takdir.

Magnet Baru Intelektual Muda Berpolitik

| Diposting : Senin, 31 Mei 2010 | Pukul : 09.37.00 |

Oleh : Akmal Budi Yulianto [ A.B.Y ]

Kemenangan dramatis Anas Urbaningrum yang berhasil menyisihkan isu kandidat – kandidat terpilih pada hari minggu lalu 24 mei 2010 telah telah membuka mata semua pihak bahwa partai besar sekaliber Partai Demokrat telah membuka ruang bagi tampilnya anak muda , sebagai ketua umum partai.

Sebuah peran besar diberikan bagi pria cancer kelahiran blitar 15 juli ini . Keberhasilan dan perjuangan selama 1 periode lalu dan diikuti dengan pemilu calon legislatif dan pemilu presiden 2009 adalah bekal dan bukti awal bahwa sosok Anas mampu tampil mendinginkan suasana ketika politik terasa panas . Peran peran anas membawa democrat dalam politik yang seirama dengan ketua dewan Pembina , yang kini menjabat Presiden RI untuk periode ke duanya.

SBY telah menjalankan pikiran pikiran Soekarno yang mengatakan bahwa “ berikan aku 10 orang pemuda maka akan aku goncangkan dunia”. Sebuah langkah yang bahkan Partai PDI-P sekalipun belum yang merupakan anak “biologis” bung karno belum bias melakukan hal tersebut.

Jelas terlihat Netralitas SBY baik di putaran pertama dan kedua untuk tidak terlibat mendukung salah satu kandidat , plus statemen SBY yang mengatakan bahwa para peserta kongres harus memilih dengan hati nurani . Ketahanan mental Sang Demokrat Jilid II ini teruji matang untuk tidak tergesa – gesa , takut tidak mendapat restu dan dukungan , adanya intervensi , tidak menyikap statemen yang keras , telah membuka mata khalayak peserta kongres dan masyarakat bahwa Anas sangat teruji dan layak menpati pos Ketua Umum Partai Demokrat .

DPC sebagai eksekutor telah mendengar aspirasi atas , bawah , kiri kanan dan masyarakat untuk sekali lagi memutuskan bahwa kemenangan Anas adalah aspirasi yang ada di luar arena kongres partai demokrat . Adanya Harapan Internal mengenai peranan DPC , DPD yang dimaksimalkan dalam statement Anas untuk melakukan revitalisasi partai adalah suatu hal yang membuka mata dan pikiran para peserta kongres.

Harapan eksternal yang terngiang dari daerah dan dibawa ke arena kongres adalah buah kepercayaan para pemilih bahwa sosok anak muda mantan ketua umum PB HMI ini akan mampu meneruskan dan menjadi harapan baru bagi mereka semua dalam perjuangan mereka di 2014 . Kesantunan dan kritikan halus ala Anas adalah modal besar untuk membawa nakhoda partai demokrat dalam langkah kontinuitas yang telah di terapkan oleh Presiden SBY .

Sosok AU yang diharap harapkan telah memberikan inspirasi akan adanya ikon baru baik untuk internal partai demokrat maupun adanya ikon ikon baru bagi anak muda tampil memainkan perannya baik dalam dunia kampus , intelektual , organisasi dan kepartaian . Jejak anas yang aktivis dan seorang intelektual akan diikuti oleh seluruh elemen muda yang ada di Indonesia . Sosok anak muda , anak guru yang mampu tampil ke permukaan . Harapan harapan inilah yang menghiasai segala pujian untuk Anas Urbaningrum yang telah berkarir baik dalam dunia aktivis , intelektual , organisasi dan partai politik.

Dari kalangan sahabat dan generasinya anas terbilang dekat dengan semua kalangan baik itu lintas okp di cipayung kelompok HMI , PMII , PMKRI , GMKI , dll . Di golongan organisasi senior semacam Muhammadiyah , NU , Al- Washiliyah keberadaaan sosok Anas saya yakin sangat diterima karena anas mampu menjaga ruh demokrat yang berada di tengah.

Kebutuhan SDM untuk demokrat dalam mewujudkan platform kerakyatannya , Anas memerlukan dukungan banyak lini baik itu dari internal maupun eksternal . Dengan arahan dan bimbingan dari Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono , Anas akan menyatukan kelompok kelompok muda lintas sector baik dari buruh , tani , nelayan , pekerja , pemuda dan mahasiswa , ekonom , politisi , ahli perminyakan dan energy , kesehatan , militer , hukum dan ham , IT dan lain lain .

Sebut saja beberapa intelektual muda yang perlu diambil pemikirannya seperti Ikhsan Modjo, Saiful Munjani , Usman Hamid , Fery Juliantono , Andi Arief yang mana bisa memperkuat barisan demokrat nantinya selain komposisi kepengurusan dari Internal yang sudah ada apabila yang bersangkutan bersedia masuk dan mau memperkuat kepartaian .

Young Demokrat Akan terus berkibar menjadi bola salju yang kuat dan menyerap kekuatan kekuatan baru bukan untuk Partai Demokrat saja , melainkan untuk Bangsa dan Negara Indonesia . Komitmen penguatan yang disampaikan oleh dua kandidat lain seperti Marzuki Alie dan Andi Mallarangeng untuk mendukung siapapun yang terpilih adalah komitmen kuat bagi kekuatan Anas dan partai demokrat dalam melangkah menuju tahap ke dua kemenangan demokrat .

Demokrat tidak akan bisa melepaskan diri dan melupakan jasa Pak SBY dalam membesarkan demokrat dan citra partainya . SBY adalah demokrat sejati yang dalam setiap langkahnya telah dibuktikan . Keberpihakan pada anti korupsi dan keberpihakan demokrasi dan kekuatan lobi Indonesia telah kembali mengangkat Indonesia menuju kejayaan Indonesia di wilayah Asia Tenggara . Reformasi birokrasi , Hukum dan HAM serta komitmen membangun bangsa adalah salah satu yang terus di suarakan oleh SBY .

Kemenangan ini adalah kemenangan Anak Muda Indonesia dan memberikan semangat baru pada potret Indonesia ke depannya . Kejujuran dan ketulusan dalam memberikan sumbangsih pikiran dan Tenaga adalah modal awal agar generasi muda Indonesia ma uterus berkarya dan tidak hanya menyerap budaya budaya impor dari luar , tidak hanya bisa bersenang senang dalam dunia nya melainkan mampu membuktikan diri dan persembahannya untuk Indonesia .




Penulis adalah Peneliti Golden Institute
goldeninstitute.com
Contact :
email : aby.indonesia@gmail.com
HP : 08-999-324134
0856-999-3263

Profil Singkat :
Lahir : Jakarta , 08 Juli 1980
Aktivitas :
Ketua HMTIF Usakti
Vice Presiden BEM Usakti 2003 – 2004
Sekjen Perhimpunan Mahasiswa Informatika dan Komputer Nasional
Ketua Badko HMI Jabodetabeka Banten 2004-2005
Penasehat Golden Institute (goldeninstitute.com )
Pendiri SItus Online Duaberita.com
Pendidikan :
SD Muhammadiyah V Jakarta
SMP Negeri 19 Jakarta
SMU Muhammadiyah I Yogyakarta
Usakti , Teknik Informatika
Usakti , Magister Managemen

Orang Nomor Dua di Demokrat

| Diposting : Kamis, 27 Mei 2010 | Pukul : 09.32.00 |

Oleh : Akmal Budi Yulianto [ A.B.Y ]
Poto : Istimewa
Bicara pemegang saham di Partai Demokrat, Mutlak semua akan menyatakan kesetujuannya bahwa Pak SBY adalah Individu yang sangat berkepentingan terhadap partai ini. Keterlibatan Ketua Dewan Pembina Tidak hanya pada persoalan nama, melainakan juga pada Mars Demokrat dan perangkat lain seperti lambing dan kelahiran partai yang kebetulan identik dengan hari ulang tahun beliau.

Alkisah pernah terjadi diskusi antara Pak Vence Rumangkang dan Pak SBY dalam hal nama, diceritakan bahwa pak Vence mengusulkan namanya Partai Nasionalis Kebanngsaan, namun karena terlalu panjang akhirnya SBY mengusulkan agar menjadi, DEMOKRAT, karena lebih mudah disebut dan diingat

Proses perjalanan waktu menghantarkan partai segitiga berbentuk bintang mercy tersebut menjadi partai yang mampu menghantarkan SBY menjadi orang nomor 1 di RI pada 2004 plus mengalahkan pesaingnya ketika itu adalah Megawati Soekarnoputri.

Dua orang Ketua Umum Partai, yakni Prof. Subur Budhi Santoso dilanjutkan kemudian oleh Hadi Utomo telah menanjakkan posisi partai dalam angka angka yang cukup signifikan dalam setiap pemilu. Sebut saja ketua yang terakhir adalah yang kemudian berhasil menghantarkan SBY menjadi Presiden RI untuk batas waktu yang terakhir sesuai dengan amanat UUD Republik Indonesia. Dengan perolehan suara partai bermodal 20% telah berhasil menghantarkan  SBY menjadi pemenang pemilu satu putaran.

Keberhasilan Demokrat meraih angka 20 persenan tersebut tentu saja bukan hanya perjuangan sang ketua umum. Kita tidak bisa membohongi diri bahwa mayoritas masyarakat memilih dan mencoblos partai demokrat di 2009 adalah dikarenakan sosok SBY yang cukup dominan. Ketokohan dan semangat SBY sedikit banyak mendorong masyarakat Indonesia untuk memilih Demokrat dan SBY.

Kelompok investor cukup merasa nyaman dengan policy yang ada dan akan tercipta dari pemerintahan era SBY-JK (Jusuf Kalla) dan juga harapan yang sama pada era SBY-Boediono.

Penggabungan mesin dan strategi partai yang diracik oleh ketua umum Hadi Utomo berikut jajarannya plus ketokohan SBY dan pencitraannya telah terlihat pada pemilu 2009.

Bandung 2010 lalu adalah momentum langkah baru untuk demokrat dalam strateginya merumuskan langkah awal menuju 2014. Paling tidak Sang Pengatur Mesin Baru telah lahir, namanya Anas Urbaningrum. Dia terpilih sebagai Ketua Umum ke Tiga DPP Partai Demokrat periode 2010 – 2015. Demokrat boleh berbangga diri karena paktek demokrasi terimplementasi nyata dalam Kongres II lalu. Tidak ada intervensi.

Pujian mengalir untuk partai demokrat dari masyarakat yang sepertinya selaras antara keinginan peserta kongres dengan masyarakat luar. Kepercayaan para pemilih di kongres diserahkan kepada Anas Urbaingrum untuk meneruskan langkah partai dan jejak para ketua umum sebelumnya.

Tidak hanya masyarakat, elite elite partai juga cukup kaget dan memberikan apresiasi bagi partai Demokrat yang mempercayakan sosok berusia 41 tahun tersebut memimpin gerbong dan klaim sebagai partai terbesar hari ini.

Di periode ketiga ini partai demokrat akan diuji kembali dengan kondisi bahwa sosok SBY tidak akan hadir di 2014. Tentu saja Anas dan Ketua Dewan Pembina harus berhitung bagaimana langkah dan strategi yang dapat dilakukan agar posisi partai meningkat perolehan suaranya atau minimal tidak berkurang. Antara lain adalah bagaimana masyarakat bisa menilai keberhasilan pemerintahan SBY di 2009 – 2014.

Kemudian bagaimana cara Anas mengembangkan sayap partai dan memenangkan Pilkada di Indonesia serta kemampuan untuk menyerap potensi SDM yang ada di tanah air yang muda dan merakyat. Paling tidak komitmen yang dikatakan Anas adalah akan mengurus partai secara maksimal dan tidak paruh waktu. Anas akan mundur dari posisi Ketua Fraksi di DPR RI. Pengganti jajaran fraksi segera akan dilakukan.

Struktur kepengurusan partai yang diisi oleh DPP Demokrat sebaiknya adalah gabungan potensi internal dan potensi eksternal. Tim 9 yang menyusun komposisi kepengurusan partai setidaknya perlu memikirkan bagaimana kepengurusan partai menjadi efektif dengan menggabungkan semua komponen dan kekuatan partai.

Posisi posisi kunci partai seperti sekjen dan wakil ketua umum harus diisi oleh individu yang pas dan dapat memperkuat roda partai di Demokrat sehingga semua kalangan terakomodir. Barisan Andi Mallarangeng dan Marzuki Alie, serta kelompok senior tidak ketinggalan perlu diperhatikan oleh Anas dan Tim 9 dalam pertimbangan menyusun kepengurusan.

Sebagai sekjen, yakni orang nomor dua di kepartaian saat ini banyak di perbincangkan oleh para pengamat dan partai. Kemauan Edi Baskoro Yudhoyono untuk berpolitik dan kemudian menjadi tim sukses Andi Mallarangeng adalah bukti nyata Ibas sedang belajar dalam berpolitik dan berorganisasi.

Terlepas dari darah birunya, Pada momentum kongres kemarin seolah SBY tengah membiarkan agar ibas semakin belajar dan mempercepat proses pembelajaran politiknya. Anggota DPR RI dengan perolehan suata terbesar di pacitan tersebut dapat menjadi pilihan pertama untuk di plot sebagai sekjen.

Selain itu pertimbangan Ibas menjadi sekjen adalah agar dapat mudah menyelaraskan agenda DPP Demokrat dengan program pemerintahan yang sedang dipegang oleh Ketua Dewan Pembina.

Kubu Marzuki berpendapat bahwa posisi sekjen perlu diisi oleh generasi Senior untuk dapat menyesuaikan akselerasi Anas yang masih muda. Wajar dengan pendapat tersebut agar jam terbang ke 'senioran' bisa menjadi  pertimbangan pertimbangan ketika DPP mengambil sikap. Beberapa nama senior yang mampu tampil sebagai sekjen sebut saja nama Andi Mallarangeng, Haryono Isman, Max Sopacua, Meilani Suharli, dll.

Khusus buat Andi Mallarangeng yang merupakan kandidat Ketum selain sekjen posisi wakil ketua umum juga bisa menjadi akomodasi bagi pria Makassar ini untuk tetap berkiprah di demokrat, toh usianya juga masih muda saat ini. Apalagi Andi memiliki kekuatan jaringan dan advertising FOX yang sudah teruji dalam event event politik tanah air.

Selain Ibas, ada beberapa nama juga dari pihak keluarga yang cukup layak menempati pos orang nomor dua di kepartaian. Antara lain sebut saja Agus Hermanto yang masih kerabat SBY, Nurcahyo Anggoro yang merupakan putra Hadi Utomo. Cukup layak ke dua nama tersebut tampil mewakili pihak keluarga cikeas. Saat ni Nurcahyo ( yoyo ) juga menjabat sebagai Anggota DPR RI dan kemarin juga menjadi tim sukses pemenangan Andi Mallarangeng.

Alternatif terakhir adalah pengakomodasian dari kalangan purnawirawan MIliter baik dari AU, AD, AL yang cukup dipercaya SBY untuk membantu Anas memimpin demokrat. Keterlibatan purnawirawan dalam panggung politik hampir ada disetiap partai. Hal ini tidak lebih untuk menjaga kesatuan NKRI dan Pancasila serta pengalamannya dalam hal territorial di Indonesia akan menjadi tambahan energy bagi partai untuk urusan pilkada, harmonisasi dan stabilitas pusat dan daerah.

Kesibukan Partai Demokrat ke depan selain internal dan penguatan organisasi, tentu saja Demokrat harus menjaga hubungan dengan mitra koalisi yang ada seperti Partai Golkar, PAN, PKB, PKS, PPP adalah pekerjaan rumah yang tidak mudah. Baik hubungan dengan para ketua umum berikut dengan penguatan koalisi di legislatif dan eksekutif.

Tentu saja agar panjang umur demokrat harus melakukan evaluasi terhadap mitra koalisi dan membuat jalan baru yang lebih manis dalam menggolkan agenda agenda pemerintahan SBY – Boediono disamping melakukan reformasi di segala bidang. Sehingga hal ini akan membuat citra partai tetap baik di mata masyarakat dan lembaga survey.

Untuk itulah maka harmonisasi dan jajaran kepengurusan partai demokrat dan jajaran intinya harus dipilih dengan pertimbangan yang matang agar sosok Anas mampu tampil paling tidak mendekati citra SBY sebagai “Sang Demokrat Jilid II“. Bagi Partai demokrat kelahiran sosok sosok baru sangat perlu di munculkan mengingat partai ini masih baru dan membutuhkan yang banyak dan mempercepat akselerasi dari partai sejenis yang ada seperti partai Golkar yang boleh dibilang agak cukup dalam hal resource bagi kebutuhan di jajaran pemerintahan.

Kita tidak akan bisa menebak konstelasi politik yang akan terjadi di 2014. Kalau disejajarkan dengan ketua partai yang lain , Anas terbilang paling muda di bandingkan dengan ketua partai yang ada  seperti Abu Rizal Bakrie (Golkar), Hatta Radjasa (PAN), Muhaimin Iskandar (PKB), Suryadharma Ali (PPP), Lutfi Hasan (PKS), Megawati ( PDI – P ), MS Ka’Ban (PBB), Bursah Zarnubi (PBR), Geirndra, Wiranto (Hanura).

Semua pimpinan partai akan kembali berhitung dengan positioning Demokrat hari ini terlebih partai partai besar yang pernah memegang tampuk kekuasaan di Republik Ini. Mungkin saja sejarah baru demokrasi di Indonesia akan bergerak menuju lompatan baru di 2014. Entah apakah generasi muda bisa tampil di aena tersebut ataukah wajah lama yang akan menghiasi kertas suara KPU di ajang pemilihan presiden dan wapres. Rakyat yang akan menentukan hasilnya.




Penulis adalah Peneliti Golden Institute
goldeninstitute.com
Contact :
email:aby.indonesia@gmail.com
HP:08-999-324134
0856-999-3263
Profil Singkat :
Lahir:Jakarta , 08 Juli 1980
Aktivitas :
Ketua HMTIF Usakti
Vice Presiden BEM Usakti 2003 – 2004
Sekjen Perhimpunan Mahasiswa Informatika dan Komputer Nasional
Ketua Badko HMI Jabodetabeka Banten 2004-2005
Penasehat Golden Institute (goldeninstitute.com)
Pendiri SItus Online Duaberita.com

Pendidikan :
SD Muhammadiyah V Jakarta
SMP Negeri 19 Jakarta
SMU Muhammadiyah I Yogyakarta
Usakti, Teknik Informatika
Usakti, Magister Managemen

Muara Teweh

Index »

Music

Index »

advertisement

 
Hak Cipta© 2009-2016. Mardedi H Andalus | Semua hak dilindungi undang-undang.
Link: Facebook.com | Support: Creating Website | Blogger