google.com, pub-5013500952012613, DIRECT, f08c47fec0942fa0
☆BreakingNews >
Home » » Cetak Sawah Terkendala Biaya Tinggi Mobilisasi Peralatan

Cetak Sawah Terkendala Biaya Tinggi Mobilisasi Peralatan

| Diposting : Selasa, 12 April 2016 | Pukul : 18.42.00 |

Pekerjaan Proyek Terancam Molor dari Jadwal

MUARA TEWEH - Pelaksanaan proyek cetak sawah seluas 1.500 hektar bersumber dana APBN di Kabupaten Barito Utara sepertinya bakal molor dari jadwal akhir Juni 2016.

Sejumlah kendala mulai dijumpai saat proyek ini sedang tahap pekerjaan. Khususnya terkait biaya mobilisasi peralatan, untuk pekerjaan cetak sawah tersebut.

"Pagu dana untuk cetak sawah ini terbilang kecil, bila menyesuaikan kondisi lahan. Selain lokasi proyek jauh, kondisi lahan banyak ditumbuhi tegakan pohon besar," ungkap sumber Tabengan, Senin (11/4).

Proyek cetak sawah ini program pemerintah pusat, sumber dana APBN 2016, dialokasikan dalam rangka mewujudkan kemandirian ketahanan pangan di tanah air.

Menariknya, pelaksanaan pekerjaan proyek ini tidak langsung dikerjakan pemenang tender, melalui pelelangan umum dinas teknis. Karena tahapan pekerjaan melalui kerjasama dengan Kodim 1013 Muara Teweh.

Di Barut sendiri, proyek ini tidak saja di lokasi di sentra pertanian yang mudah dijangkau transportasi darat. Namun juga di lokasi agak jauh, di desa pedalaman Barut.

"Satu hektar sawah, dibayar kurang lebih Rp 12 juta. Belakangan muncul sejumlah kendala, khususnya tingginya biaya mobilisasi alat berat ke lokasi jauh dari Kota Muara Teweh," sebut sumber.

Padahal pelaksana pekerjaan juga berada di lokasi jauh dari pusat Kota Muara Teweh. Terutama loksi proyek di desa pedalaman Sungai Lahei, biaya mobilisasi alat berat tidak kurang ratusan juta.

Apalagi, pelaksana pekerjaan terkesan dimonopoli pihak tertentu. Sehingga sulit bagi mereka mampu selesaikan proyek cetak sawah ini. Secara logika, waktu empat bulan, mampu diselesaikan 500 hektar.

"Memang kini pelaksana proyek sedang menggenjot menyelesaikan cetak sawah. Tapi melihat kendala dilapangan, mustahil pekerjaan selesai akhir Juni ini," tegas sumber.

Di lain pihak, sebelumnya Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Barut, Ir.Setia Budi menegaskan, awal pelaksanaan pekerjaan telah dilakukan survei lokasi proyek.

Tujuan program pemerintah pusat tersebut, untuk peningkatan produksi pertanian di wilayah pedalaman. Termasuk di antaranya lokasi lahan pertanian di Barut, Kalimantan Tengah.

"Ini program perluasan lahan pertanian pemerintah pusat, guna penguatan ketahanan pangan nasional. Proyek ini ditargetkan selesai akhir Juni 2016. Sehingga bisa dimanfaatkan musim tanam Oktober-Maret 2016-2017," jelas Budi. edi
Bagikan artikel ini :

Tidak ada komentar:

 
Hak Cipta© 2009-2016. Mardedi H Andalus | Semua hak dilindungi undang-undang.
Link: Facebook.com | Support: Creating Website | Blogger